Jakarta, SinarUpdate.com – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada tahun 2025 mencatat adanya peningkatan jumlah anak-anak yang terpapar radikalisme melalui media sosial (medsos). Sebanyak 112 anak Indonesia temukan terpengaruh oleh paham radikal yang disebarkan melalui platform digital dan game online. Fenomena ini menjadi sorotan serius, mengingat banyaknya anak-anak yang aktif menggunakan internet sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Radikalisasi melalui medsos adalah tantangan besar yang perlu segera tangani, karena bisa berakibat fatal bagi masa depan anak-anak dan generasi penerus bangsa.
Peran medsos yang sangat dominan dalam kehidupan anak muda saat ini menjadikannya sebagai sarana yang mudah diakses untuk menyebarkan berbagai informasi, termasuk yang berbau radikal. Banyak anak yang belum memiliki pemahaman yang cukup untuk menilai mana informasi yang benar dan mana yang berpotensi merusak. Dalam konteks ini, BNPT berupaya memberikan perhatian khusus terhadap upaya pencegahan radikalisasi bagi anak-anak, terutama yang terpapar lewat medsos.
Medsos sebagai Sarana Penyebaran Radikalisasi
Media sosial memang menawarkan berbagai kemudahan dalam berinteraksi, bertukar informasi, dan bahkan mengakses berbagai jenis hiburan. Namun, di balik kemudahan tersebut, medsos juga menjadi ladang subur bagi penyebaran paham radikal. Para pelaku radikalisasi memanfaatkan platform digital ini untuk menyebarkan ideologi ekstrem, menyasar terutama anak-anak yang belum cukup memiliki pemahaman kritis terhadap informasi yang mereka terima.
Radikalisasi melalui medsos umumnya lakukan dengan cara yang halus. Anak-anak dan remaja biasanya ajak untuk bergabung dalam kelompok online, diskusi, atau forum yang mengajarkan paham-paham yang jauh dari nilai-nilai Pancasila. Penggunaan video, meme, hingga live streaming yang mengajak untuk melakukan tindakan radikal dapat memengaruhi pola pikir mereka. Dalam banyak kasus, konten-konten ini sajikan dengan cara yang sangat menarik, sehingga membuat anak-anak merasa tertarik untuk ikut serta tanpa menyadari bahaya yang mengintai.
Selain itu, adanya platform game online juga menjadi sarana tambahan yang gunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi mereka. Dalam beberapa kasus, anak-anak yang bermain game online bisa pengaruhi oleh pesan-pesan yang selipkan dalam permainan tersebut. Tak jarang, mereka terjebak dalam dunia maya yang penuh dengan manipulasi dan propaganda yang berpotensi merusak karakter dan pandangan hidup mereka.
Pencegahan dan Peran Orang Tua dalam Menangkal Radikalisasi
BNPT menyadari bahwa pencegahan radikalisasi anak-anak melalui medsos memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Salah satu langkah penting adalah edukasi kepada anak-anak tentang bahaya radikalisasi di dunia maya dan cara menggunakan internet secara bijak. Selain itu, BNPT juga mengajak orang tua untuk lebih aktif dalam mengawasi penggunaan internet oleh anak-anak mereka.
Orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam melindungi anak-anak dari pengaruh buruk di dunia maya. Dengan cara membatasi waktu yang habiskan anak-anak di depan layar gadget dan mengawasi jenis konten yang mereka konsumsi. Orang tua dapat mencegah anak-anak terjebak dalam penyebaran ideologi ekstrem. Selain itu, mendidik anak tentang pentingnya berpikir kritis dan selektif terhadap informasi yang terima akan sangat membantu dalam mengurangi risiko terpapar radikalisasi.
Di samping itu, pihak sekolah juga harus memainkan peran yang lebih aktif dalam memberikan pembekalan kepada siswa-siswi mengenai bahaya radikalisasi. Materi-materi tentang pemahaman Pancasila, toleransi, dan keanekaragaman budaya bisa menjadi senjata ampuh untuk membentengi anak-anak dari pengaruh radikal.
BNPT juga terus berkoordinasi dengan berbagai platform digital dan media sosial untuk melakukan pemantauan konten yang dapat merusak ideologi dan mempromosikan radikalisasi. Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait, BNPT berharap dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi anak-anak Indonesia.






