Jakarta, SinarUpdate.com – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Densus 88 telah mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa banyak anak-anak yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui game online. Fenomena ini menjadi semakin mengkhawatirkan, mengingat anak-anak adalah kelompok rentan yang masih dalam tahap pembentukan karakter dan pemikiran. Radikalisasi melalui game online bukan hanya berdampak pada pola pikir anak, tetapi juga berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan di dunia nyata.
Medsos dan game online kini menjadi saluran yang sangat efektif bagi kelompok-kelompok ekstremis untuk menyebarkan ideologi radikal mereka. Mereka menyelipkan pesan-pesan yang mengajak kekerasan dalam bentuk yang halus, melalui karakter, narasi, dan misi dalam permainan. Tanpa sadari, anak-anak yang terpapar game-game ini dapat mulai menerima ideologi tersebut sebagai sesuatu yang normal. Menurut Densus 88, hal ini adalah ancaman serius yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari berbagai pihak, termasuk orang tua, pendidik, dan masyarakat.
Game Online sebagai Sarana Penyebaran Radikalisasi Kekerasan
Dalam era digital seperti sekarang, game online memiliki daya tarik luar biasa bagi anak-anak dan remaja. Selain menyenangkan, game-game ini sering kali menantang pemain untuk menyelesaikan misi yang melibatkan pertempuran atau kekerasan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya elemen-elemen radikal yang sisipkan dalam gameplay tersebut. Densus 88 mengungkapkan bahwa banyak game online, baik yang populer di kalangan anak-anak maupun remaja, gunakan untuk menyebarkan ideologi ekstrem melalui berbagai simbol, karakter, dan alur cerita yang mendukung kekerasan.
Misalnya, beberapa game memperkenalkan karakter-karakter yang terlibat dalam perjuangan bersenjata, dengan narasi yang mengglorifikasi kekerasan dan perang. Para pemain yang terjun dalam permainan tersebut cenderung mengidentifikasi diri mereka dengan karakter-karakter ini, dan pada akhirnya. Mereka mulai menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang dapat terima. Dalam beberapa kasus, permainan ini juga dapat menciptakan rasa kebanggaan terhadap tindakan radikal. Yang jika tidak hadapi dengan benar, bisa menumbuhkan sikap intoleransi dan ekstremisme dalam kehidupan nyata.
Selain itu, game online juga menawarkan komunitas virtual di mana pemain bisa berinteraksi satu sama lain. Di sinilah potensi radikalisasi semakin besar. Kelompok-kelompok radikal sering kali memanfaatkan forum-forum ini untuk mempengaruhi pemain muda, mengajak mereka bergabung dalam aliran ideologi ekstrem yang mereka anut. Hal ini bisa terjadi secara bertahap dan sering kali sulit terdeteksi oleh orang tua atau pengawas lainnya.
Dampak Radikalisasi Anak Melalui Game Online
Dampak dari radikalisasi anak melalui game online sangat berbahaya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada tingkat psikologis, anak-anak yang terpapar ideologi kekerasan dari game dapat mulai mengubah cara pandang mereka terhadap dunia sekitar. Mereka mungkin mulai merasa bahwa kekerasan adalah cara yang sah untuk menyelesaikan masalah, atau bahkan lebih parah, mereka bisa terpicu untuk melakukan tindakan kekerasan yang nyata.
Secara sosial, anak yang terpapar ideologi radikal mungkin mulai merasa terasing dari masyarakat atau keluarga mereka. Mereka bisa mengembangkan pandangan yang ekstrem terhadap kelompok-kelompok lain yang berbeda pendapat, agama, atau ras. Hal ini dapat merusak hubungan sosial mereka dengan teman-teman sebaya atau bahkan keluarga. Radikalisasi juga dapat menyebabkan anak menjadi tertutup dan semakin terisolasi, memperburuk masalah komunikasi antara mereka dengan orang tua atau pendidik.
Dari segi perilaku, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan anak terjerumus dalam tindakan nyata yang dapat membahayakan dirinya sendiri atau orang lain. Dalam kasus ekstrem. Anak yang terpapar ideologi radikal melalui game online bisa terpengaruh untuk bergabung dengan kelompok-kelompok teroris atau melakukan tindakan kekerasan sebagai bagian dari ideologi yang mereka yakini.






